Kamis, 27 Agustus 2015

Senandung Kisah Lapar

Oleh : Wahyu Sapto Prasojo (ayuth), 15 Desember 2006

Perutku begitu lapar….
Apa aku harus memakan sisa sebungkus nasi di dalam tong sampah itu???
Sisa orang karena lambungnya tak muat lagi menampungnya
Sisa orang karena ia bosan mengunyahnya lagi…
Atau sisa orang karena kebiasaannya untuk selalu menyisakannya…
Atau mungkin sisa orang karena nasi itu telah basi…

Sesabar inikah aku? hingga harus menunggu sisa nasinya meluncur ke tong sampah
Seburuk inikah aku? hingga harus melahap sisa itu karena teriakan tangis perutku….
Tapi yang jelas nasi itu telah terlempar ke dalam tong sampah itu
Dan bagaimanapun lalat yang mengerumuninya tetap mengundang seleraku….
Lalat itu…, lalat itu menjulurkan lidahnya terbang bergoyang berpesta pora…
Apa aku harus diam, melotot, tetap berdiri di sini???
Aku harus sadar bahwa ini kompetisi…,
Sebelum  pasukan semut akan datang, sebelum sekawanan kecoa mengendusnya dengan menjijikkan..
Atau aku harus membiarkannya menjadi hidangan hajatan si belatung di kemudian hari…

Aku harus cepat berlari mengambilnya, menangkapnya, merebutnya dari para pesaing-pesaing cecunguk itu…
Tapi sepertinya aku tak harus berlari…, tetap menjaga wibawaku dari orang-orang di sekitarku…
Aku harus melangkah perlahan membuktikan diriku bahwa aku pantas ditakuti binatang kecil itu…

Aku begitu percaya diri di langkah pertama kaki kananku ini…, dan ini langkah kedua kaki kiriku…aku semakin percaya diri…, langkah ketigaku semakin meyakinkanku untuk mengambilnya…

“Hei!!!!! Kenapa kau harus kencing di situ….”
“Siapa yang mengajarimu untuk kencing di tong itu!!!!!”
“Ayo lari …!!cepat sana lariiii!!!, kau hanya bisa lari sambil menjulurkan lidahmu…!!!”
“aku tak peduli gonggonganmu…”
“Dasar anjing tak bertuan…!!”

Tak habis pikir aku.., tangisan massal di perutku semakin terdengar…
Merangsang hatiku untuk ikut menangis dalam kebimbangan…
Apakah aku harus tetap mengambilnya???
Aku tak kuat menahan lapar…
Aku bosan untuk terus meminta….
Tapi kini aku hanya menunggu sisa…..
Kini tangis hatiku semakin terasa hingga mataku teteskan air mata…
Apa aku hanya bisa seperti ini…?Tapi aku yakin aku lebih dari ini…. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar