Ini cerita yang saya tulis karena terinspirasi dari sebuah kisah nyata. Tentunya yang bersangkutan sebagai sumber inspirasi penulis ini, tak perlu saya sebutkan siapa nama dan di mana tempat tinggalnya. Namun dari cerita ini saya bisa mengambil manfaat dan hikmah, mungkin juga bisa bermanfaat bagi anda yang membaca kisah ini.
Seorang ayah ini berprofesi sebagai seorang wirausaha kuliner. Usahanya sudah dijalankan selama lebih dari delapan tahun. Meskipun warungnya masih berstatus warung kaki lima, tapi untuk masalah omzet dan penghasilannya lebih dari cukup. Anda bisa memperkirakan sendiri berapa keuntungan setiap bulan dari sebuah Warung kaki lima, yang menjual beraneka menu makanan pilihan, memiliki empat karyawan pembantu, dengan rata-rata pembelinya bisa mencapai 50 sampai 100 orang tiap hari. Tentunya bisa dibayangkan berapa penghasilan warung tersebut, pastinya lebih dari cukup.
Ia memiliki satu istri dan satu anak laki-laki berusia 6 tahun yang masih bersekolah TK. Ia juga seorang ayah yang sayang pada keluarganya. Berusaha bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu kebutuhan kedua orang tua, keluarga besarnya bahkan mertuanya. Ia sudah memiliki rumah sendiri yang layak huni, lengkap dengan perabotan rumah yang memadai, memiliki kendaraan baik itu mobil atau sepeda motor dengan merk dan seri yang masih sangat kekinian. Ia punya tiga sepeda motor, satu untuknya, satu untuk istrinya dan satu untuk keperluan wara-wiri karyawannya untuk keperluan berdagang. Mobilnya dua. Satu mobil pribadi dan satu mobil bak / pick up untuk keperluan dagang warungnya.
Jika dipandang secara kasat mata. Si Ayah beserta keluarga ini terbilang cukup mapan. Banyak tetangga yang mengapresiasi keberhasilan dan kerja kerasnya merintis usaha. Reputasinya juga cukup baik di kampungnya, suka membantu tetangga yang membutuhkan, cukup disegani tetangga karena perangainya yang baik dan ia terbilang cukup supel dalam bergaul.
Warungnya berada di pusat kota, yang berada cukup jauh namun bisa ditempuh kurang dari satu jam dari rumah di mana ia tinggal. Sehari-hari ia memulai mempersiapkan pekerjaannya sejak pagi, dari mulai belanja bahan-bahan untuk memasak & berdagang. Selesai itu semua, selepas pagi, pada siang hari nya ia mulai memasang tenda warung menata peralatan masak, mempersiapkan dagangan bersama empat karyawannya. Setelah selesai pun warungnya harus dibongkar, kemudian ia rapikan kembali bersama peralatan dagang dan masaknya untuk ia angkut dengan mobil bak nya menuju rumah kontrakan kecil yang ia sewa untuk menampung peralatan dagangnya dan juga sebagai tempat tinggal para karyawannya.
Warungnya berada di pinggir jalan kota, dan berada di tengah pusat keramaian. Karena ada sebuah pabrik textil besar, dan kompleks pertokoan. Tempatnya yang cukup bising karena di tengah keramaian lalu lintas kendaraan tak menyurutkan para pembeli dan pelanggannya untuk berantri mencicipi menu makanan yang ditawarkannya. Aneka menunya seputar tentang daging yang di bakar dan digoreng beserta sambal dan sayur untuk lalap dan pendampingnya. Ada ayam bakar, ayam goreng, ikan bakar lengkap ikan air tawar juga ada aneka ikan dan udang ala "sea food", Tapi selain itu juga ada menu yang lainnya untuk dijadikan pilihan bagi para pelanggannya.
Kesehariannya aktivitas ia bersama para karyawannya seperti itu terus, namun warungnya juga ada libur satu sampai dua hari tiap bulannya, biasanya setiap hari-hari terakhir di penghujung bulannya.
Namun di balik semua kegigihan dan kerja keras yang ia kerjakan, ia memiliki kebiasaan buruk di 2 tahun terakhir usia usahanya ( warungnya). Ia menjadi sangat senang bahkan kecanduan berjudi. Sebagai seorang ayah yang masih cukup muda dan gaul, ia pun masih sangat aktif mengekspresikan hobbynya untuk terus menonton dan mengikuti perkembangan dunia sepak bola terkini. Ia sangat mengerti tentang dunia bola, bahkan sampai gosip-gosip kehidupan para pemain sepakbolanya.
Berawal dari kesukaannya menonton bola tersebut, ia ja gemar sekali taruhan / judi. Mulai dari tebak score, tebak club mana yang menjuarai liga, juara liga champion, juara liga italia, liga spanyol, liga inggris, liga jerman, tebak top score dsb nya. Dia mengikuti judi online / internet, ataupun judi langsung dengan teman-teman lainnya yang gemar judi pula. Awal mula yang membuat ia ketagihan adalah ketika awal-awal bermain judi, ia selalu menang taruhan, mulai dari taruhan dengan uang ribuan, puluhan ribu, ataupun ratusan ribu hingga jutaan hingga puluhan juta.
Namun yang namanya mengadu peruntungan lewat judi, memang tidak akan selalu menguntungkan. Bahkan seringkali membawa kemalangan. Awalnya ia berjudi diam-diam tanpa sepengetahuan istri, anak dan keluarganya. Hanya para karyawannya yang tahu, tetapi tidak ada yang berani cerita kepada keluarganya. Karena ia pun melarang para karyawannya untuk cerita pada keluarganya. Namun sepandai pandainya ia menyimpan aib akhirnya tercium juga oleh istri, kemudian keluarganya. Hal tersebut tercium oleh istrinya ketika ia akan meminta uang untuk keperluan sang anak, tapi tidak pernah ada. Bahkan anaknya yang masih usia enam tahun pun jadi akhirnya tau juga. Karena sang anak hanya ingin sepeda kecil baru seperti teman-temannya, tapi tidak pernah dibelikan oleh kedua orang tuanya. Ibunya menjawab "sabar ya dik... Ayah belum punya uang, nanti kalo sudah ada uang pasti dibelikan''. Tapi bulan demi bulan hampir satu tahun keinginan si anak tidak juga terpenuhi, berdalih karena ayah belum punya uang.
Untuk membeli sepeda kecil yang notabene tidak terlalu mahal, tentu menjadi sulit karena keuangan keluarga jadi modal-madul tak karuan, karena hasil warung selalu habis dipakai untuk judi si Ayah. Bahkan hutang pun di mana-mana, hutang untuk menambah uang dagang tiap harinya. Bahkan si Ayah berhutang pun hanya untuk berjudi lagi.
Yang sangat istrinya sesali anak laki-lakinya yang masih enam tahun jadi mengerti apa itu judi, apa itu taruhan. Yang anaknya tahu bahwa nonton bola itu adalah bermain judi. Yang mengherankan adalah bagaimana si anak itu bisa tau, ternyata ia di sekolah bertanya pada ibu guru TK nya apa itu "judi". Ia tau kata "judi" ketika sang ibu dan ayahnya bertengkar, karena ibunya sering memarahi ayah agar berhenti berjudi. Terutama judi bola. Si anak ingat kata-kata ibunya saat mendengar ibunya memarahi ayahnya "Kalo nonton bola kok pasti sambil taruhan, main judi!, mbok nonton biasa aja ga usah pakai judi-judian!. Uang habis ga jelas ke mana, dedek minta sepeda aja kita ga bisa beliin. Karyawan juga sampai tiga bulan ini belum digaji, uang untuk dagang setiap harinya pun harus berhutang pada orang lain!. Astagfirullah yah.. Ayah!"
Istrinya sudah teramat jengkel dengan kebiasaan berjudi si ayah, bahkan saat terparahnya adalah apapun ia jadikan judi, mulai dari bola, nonton balapan, nonton adu ayam, dan sebagainya. Keuangan dan perekonomian keluarga jadi sulit, karyawan juga bilang mau keluar untuk mencari pekerjaan lain jika tak segera mendapat gaji. Warungpun juga tak seramai dulu.
Namun suatu ketika saat si Ayah pulang dari berjualan, pada malam hari nya ia mendapati Anak laki-laki satu-satunya tersebut menangis. Si ayah mengira kalo si anak sedang sakit, atau habis jatuh saat bermain, atau kenapa karena terus saja menangis. Bahkan tidak biasanya si anak hingga malam larut dini hari belum juga tidur dan terus saja menangis.
Ketika masuk ke kamar, ia dapati istri dan anaknya menangis. Istrinya menangis terisak lirih. Sedang anaknya menangis mendengung pelan.
Ketika tau ia datang kemudian anaknya memeluknya, sambil menangis mengatakan.."Ayah aku minta sepedaaaa...., biar bisa sepeda-sepeda-an ama temen-temen".
Ayah pun menjawab, "iya diiik...nanti ayah beliin.. Tapi nunggu ayah punya uang dulu yaa..".
Si anak pun menjawab, " Kok Ayah dari dulu ga punya uang terus sih.., ayah sih main judi terus..., uangnya kan jadi habis...".
Seketika itu pula air mata si Ayah ikut keluar, menetes dengan sendirinya tanpa mampu tertahan. Hatinya bagai teriris perih karena mendengar perkataan anaknya. Ia malu sekali pada anak dan istrinya, dan ia juga malu pada dirinya sendiri. Mulai saat itu hatinya tersentuh dan tergerak untuk mengakhiri kebiasaan buruknya berjudi. Ia bertekad untuk kembali menjadi ayah yang baik. Ayah yang mampu memimpin keluarga, menafkahi dan bisa menjadi tauladan yang baik istri dan anaknya.
Cerita tersebut mudah-mudahan bisa menjadi hikmah untuk kita semua, khususnya untuk saya sendiri. Anak adalah titipan Tuhan, ia tiada berdosa, kepolosannya adalah kejujuran. Perkataan dan pernyataan polosnya seringkali menyadarkan kita sebagai orang dewasa yang sedang bersalah. Ia adalah malaikat-malaikat kecil yang seringkali mengajarkan kebaikan dan membentengi kita dari perbuatan yang salah. Karena ia adalah Anugerah Tuhan, Anugerah Sang Kuasa, yang memiliki kebaikan, kejujuran, kemurnian cerminan kemuliaan Sang Penciptanya. Allah SWT.