Rabu, 09 Maret 2016

Seks adalah Piknik yang Menyenangkan!

Seks, selalu menarik untuk dibicarakan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan seks selalu mengundang penasaran, terlebih bagi siapapun yang belum pernah merasakannya. Menjadi sangat wajar, kenapa manusia sangat tertarik dengan seks karena manusia secara biologis difitrahkan oleh Tuhan untuk memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis dan memiliki hasrat, libido, nafsu.

Bahasan tentang seks tak kan pernah lekang di makan zaman, generasi demi generasi hingga akhir zaman, karena ia adalah bagian yang melengkapi kehidupan manusia. Bagi sebagian orang seks adalah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, namun cukup dikerjakan, sesuatu yang privat dan cukup layak dibagi pada pasangan semata. Bagi sebagian orang lagi, seks layak dibicarakan baik bersama pasangan, di diskusikan bersama sahabat, teman ataupun layak untuk dibahas, dipelajari secara umum dan dieksplorasi bahkan diekspresikan.

Adalah budaya dan kebiasaan di setiap tempat yang berbeda-beda yang mempunyai andil cukup besar tentang bagaimana setiap orang atau sekelompok orang memandang dan menyikapi segala sesuatu tentang seks. Agama serta norma-norma sosial juga memberi andil bagaimana manusia harus menyikapi segala sesuatu tentang seks.

Sebagai contoh, budaya masyarakat tertentu memiliki cara-cara khusus menyikapi seks. Di daerah X, Seks dengan tanpa ikatan pernikahan sudah menjadi hal yang biasa untuk lakukan. Di daerah Y, hubungan seks sesama jenis pun bisa terjadi dan bukanlah sesuatu yang aib jika melalui sebuah ikatan yang dilakukan secara legal (diakui oleh daerah, negara tempat ia tinggal). Ataupun hal tersebut dianggap biasa pula jika dilakukan secara ilegal. Sedangkan di daerah Z, seks hanya boleh dilakukan oleh pasangan dengan jenis kelamin yang berbeda atas dasar suatu ikatan pernikahan. Namun banyak orang juga yang memandang dan menyikapi   kehidupan seks dengan cara yang sama, karena didasarkan atas ajaran Agama yang dianutnya.

Seks bisa diartikan sebagai sekedar aktifitas penyalur hasrat dan nafsu. Seks bisa diartikan sebagai sebuah aktifitas untuk menyenangkan diri dan pasangan. Bisa pula seks dianggap sebagai sebuah aktifitas wajib untuk meneruskan generasi. Seks bisa diartikan pula sebagai sebuah aktifitas rutin kehidupan, layaknya makan, minum, mandi ataupun BAB yang harus dilakukan dan dipenuhi..., Dan ada juga yang menganggap aktifitas seks itu layaknya minum obat... Sehari 3x (tiga kali) biar cepat sembuh.hehehe.

Seks bisa pula diartikan sebagai sebuah keluhuran, suatu hal yang sakral, dan hadiah dari sebuah usaha dan perjuangan menemukan pasangan dengan cara-cara yang baik, benar dan semestinya.

Dan jika kamu ingin bisa menafsirkan dan merasakan bagaimana bisa merangkum semua hal yang saya tulis diatas tanpa beban mental, penuh rasa ikhlas, penuh sensasi menyenangkan, bagai mendapat hadiah yang kemudian bisa dijadikan rutinitas seperti minum obat...ya menikahlah..!!, yuhuuuuy.. ..hehe. Tapi ingat ya..harus ketika di saat udah cukup umur. Kapan itu cukup umur?? Ya tanyakan pada ibu dan bapakmu!

Bersambung... Bentar mau beol dulu.. Ga nahan :P

Minggu, 06 Maret 2016

Ayah Berhenti Berjudi Karena Kepolosan Sang Anak

Ini cerita yang saya tulis karena terinspirasi dari sebuah kisah nyata.  Tentunya yang bersangkutan sebagai sumber inspirasi penulis ini,   tak perlu saya sebutkan siapa nama dan di mana tempat tinggalnya. Namun dari cerita ini saya bisa mengambil manfaat dan hikmah, mungkin juga bisa bermanfaat bagi anda yang membaca kisah ini.

Seorang ayah ini berprofesi sebagai seorang wirausaha kuliner. Usahanya sudah dijalankan selama lebih dari delapan tahun. Meskipun warungnya masih berstatus warung kaki lima, tapi untuk masalah omzet dan penghasilannya lebih dari cukup. Anda bisa memperkirakan sendiri berapa keuntungan setiap bulan dari sebuah Warung kaki lima, yang menjual beraneka menu makanan pilihan, memiliki empat karyawan pembantu, dengan rata-rata pembelinya bisa mencapai 50 sampai 100 orang tiap hari. Tentunya bisa dibayangkan berapa penghasilan warung tersebut, pastinya lebih dari cukup.

Ia memiliki satu istri dan satu anak laki-laki berusia 6 tahun yang masih bersekolah TK. Ia juga seorang ayah yang sayang pada keluarganya. Berusaha bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu kebutuhan kedua orang tua, keluarga besarnya bahkan mertuanya. Ia sudah memiliki rumah sendiri yang layak huni, lengkap dengan perabotan rumah yang memadai, memiliki kendaraan baik itu mobil atau sepeda motor dengan merk dan seri yang masih sangat kekinian. Ia punya tiga sepeda motor, satu untuknya, satu untuk istrinya dan satu untuk keperluan wara-wiri karyawannya untuk keperluan berdagang. Mobilnya dua. Satu mobil pribadi dan satu mobil bak / pick up untuk keperluan dagang warungnya.

Jika dipandang secara kasat mata. Si Ayah beserta keluarga ini terbilang cukup mapan. Banyak tetangga yang mengapresiasi keberhasilan dan kerja kerasnya merintis usaha. Reputasinya juga cukup baik di kampungnya, suka membantu tetangga yang membutuhkan, cukup disegani tetangga karena perangainya yang baik dan ia terbilang cukup supel dalam bergaul.

Warungnya berada di pusat kota, yang berada cukup jauh namun bisa ditempuh kurang dari satu jam dari rumah di mana ia tinggal. Sehari-hari ia memulai mempersiapkan pekerjaannya sejak pagi, dari mulai belanja bahan-bahan untuk memasak & berdagang. Selesai itu semua, selepas pagi, pada siang hari nya ia mulai memasang tenda warung menata peralatan masak, mempersiapkan dagangan  bersama  empat karyawannya. Setelah selesai pun warungnya harus dibongkar, kemudian ia rapikan kembali bersama peralatan dagang dan masaknya untuk ia angkut dengan mobil bak nya menuju rumah kontrakan kecil yang ia sewa untuk menampung peralatan dagangnya dan juga sebagai tempat tinggal para karyawannya. 

Warungnya berada di pinggir jalan kota, dan berada di tengah pusat keramaian. Karena ada sebuah pabrik textil besar, dan kompleks pertokoan. Tempatnya yang cukup bising karena di tengah keramaian lalu lintas kendaraan tak menyurutkan para pembeli dan pelanggannya untuk berantri mencicipi menu makanan yang ditawarkannya. Aneka menunya seputar tentang daging yang di bakar dan digoreng beserta sambal dan sayur untuk lalap dan pendampingnya. Ada ayam bakar, ayam goreng, ikan bakar lengkap ikan air tawar juga ada aneka ikan dan udang ala "sea food", Tapi selain itu juga ada menu yang lainnya untuk dijadikan pilihan bagi para pelanggannya.

Kesehariannya aktivitas ia bersama para karyawannya seperti itu terus, namun warungnya juga ada libur satu sampai dua hari tiap bulannya, biasanya setiap hari-hari terakhir di penghujung bulannya.

Namun di balik semua kegigihan dan kerja keras yang ia kerjakan, ia memiliki kebiasaan buruk di 2 tahun terakhir usia usahanya ( warungnya). Ia menjadi sangat senang bahkan kecanduan berjudi. Sebagai seorang ayah yang masih cukup muda dan gaul, ia pun masih sangat aktif mengekspresikan hobbynya untuk terus menonton dan mengikuti perkembangan dunia sepak bola terkini. Ia sangat mengerti tentang dunia bola, bahkan sampai gosip-gosip kehidupan para pemain sepakbolanya.

Berawal dari kesukaannya menonton bola tersebut, ia ja gemar sekali taruhan / judi. Mulai dari tebak score, tebak club mana yang menjuarai liga, juara liga champion, juara liga italia, liga spanyol, liga inggris, liga jerman, tebak top score dsb nya. Dia mengikuti judi online / internet, ataupun judi langsung dengan teman-teman lainnya yang gemar judi pula. Awal mula yang membuat ia ketagihan adalah ketika awal-awal bermain judi, ia selalu menang taruhan, mulai dari taruhan dengan uang ribuan, puluhan ribu, ataupun ratusan ribu hingga jutaan hingga puluhan juta.

Namun yang namanya mengadu peruntungan lewat judi, memang tidak akan selalu menguntungkan. Bahkan seringkali membawa kemalangan. Awalnya ia berjudi diam-diam tanpa sepengetahuan istri, anak dan keluarganya. Hanya para karyawannya yang tahu, tetapi tidak ada yang berani cerita kepada keluarganya. Karena ia pun melarang para karyawannya untuk cerita pada keluarganya. Namun sepandai pandainya ia menyimpan aib akhirnya tercium juga oleh istri,  kemudian keluarganya. Hal tersebut tercium oleh istrinya ketika ia akan meminta uang untuk keperluan sang anak, tapi tidak pernah ada. Bahkan anaknya yang masih usia enam tahun pun jadi akhirnya tau juga. Karena sang anak hanya ingin sepeda kecil baru seperti teman-temannya, tapi tidak pernah dibelikan oleh kedua orang tuanya. Ibunya menjawab "sabar ya dik... Ayah belum punya uang, nanti kalo sudah ada uang pasti dibelikan''. Tapi bulan demi bulan hampir satu tahun keinginan si anak tidak juga terpenuhi, berdalih karena ayah belum punya uang.

Untuk membeli sepeda kecil yang notabene tidak terlalu mahal, tentu menjadi sulit karena keuangan keluarga jadi modal-madul tak karuan, karena hasil warung selalu habis dipakai untuk judi si Ayah. Bahkan hutang pun di mana-mana, hutang untuk menambah uang dagang tiap harinya. Bahkan si Ayah berhutang pun hanya untuk berjudi lagi.

Yang sangat istrinya sesali anak laki-lakinya yang masih enam tahun jadi mengerti apa itu judi, apa itu taruhan. Yang anaknya tahu bahwa nonton bola itu adalah bermain judi. Yang mengherankan adalah bagaimana si anak itu bisa tau, ternyata ia di sekolah bertanya pada ibu guru TK nya apa itu "judi". Ia tau kata "judi" ketika sang ibu dan ayahnya bertengkar, karena ibunya sering memarahi ayah agar berhenti berjudi. Terutama judi bola. Si anak ingat kata-kata ibunya saat mendengar ibunya memarahi ayahnya "Kalo nonton bola kok pasti sambil taruhan, main judi!, mbok nonton biasa aja ga usah pakai judi-judian!. Uang habis ga jelas ke mana, dedek minta sepeda aja kita ga bisa beliin. Karyawan juga sampai tiga bulan ini belum digaji, uang untuk dagang setiap harinya pun harus berhutang pada orang lain!. Astagfirullah yah.. Ayah!"

Istrinya sudah teramat jengkel dengan kebiasaan berjudi si ayah, bahkan saat terparahnya adalah apapun ia jadikan judi, mulai dari bola, nonton balapan, nonton adu ayam, dan sebagainya. Keuangan dan perekonomian keluarga jadi sulit, karyawan juga bilang mau keluar untuk mencari pekerjaan lain jika tak segera mendapat gaji. Warungpun juga tak seramai dulu.

Namun suatu ketika saat si Ayah pulang dari berjualan, pada malam hari nya ia mendapati Anak laki-laki satu-satunya tersebut menangis. Si ayah mengira kalo si anak sedang sakit, atau habis jatuh saat bermain, atau kenapa karena terus saja menangis. Bahkan tidak biasanya si anak hingga malam larut dini hari belum juga tidur dan terus saja menangis.

Ketika masuk ke kamar, ia dapati istri dan anaknya menangis. Istrinya menangis terisak lirih. Sedang anaknya menangis mendengung pelan.

Ketika tau ia datang kemudian anaknya memeluknya, sambil menangis mengatakan.."Ayah aku minta sepedaaaa...., biar bisa sepeda-sepeda-an ama temen-temen".
Ayah pun menjawab, "iya diiik...nanti ayah beliin.. Tapi nunggu ayah punya uang dulu yaa..".
Si anak pun menjawab, " Kok Ayah dari dulu ga punya uang terus sih.., ayah sih main judi terus..., uangnya kan jadi habis...".

Seketika itu pula air mata si Ayah ikut keluar, menetes dengan sendirinya tanpa mampu tertahan. Hatinya bagai teriris perih karena mendengar perkataan anaknya. Ia malu sekali pada anak dan istrinya, dan ia juga malu pada dirinya sendiri. Mulai saat itu hatinya tersentuh dan tergerak untuk mengakhiri kebiasaan buruknya berjudi. Ia bertekad untuk kembali menjadi ayah yang baik. Ayah yang mampu memimpin keluarga, menafkahi dan bisa menjadi tauladan yang baik istri dan anaknya.

Cerita tersebut mudah-mudahan bisa menjadi hikmah untuk kita semua, khususnya untuk saya sendiri. Anak adalah titipan Tuhan, ia tiada berdosa, kepolosannya adalah kejujuran. Perkataan dan pernyataan polosnya seringkali menyadarkan kita sebagai orang dewasa yang sedang bersalah. Ia adalah malaikat-malaikat kecil yang seringkali mengajarkan kebaikan dan membentengi kita dari perbuatan yang salah. Karena ia adalah Anugerah Tuhan, Anugerah Sang Kuasa, yang memiliki kebaikan, kejujuran, kemurnian cerminan kemuliaan Sang Penciptanya. Allah SWT.

Sugesti Diri adalah Investasi Paling Berharga!

Sugesti diri adalah investasi yang sangat berharga bagi kita. Men-sugesti diri ibarat kita menanamkan sebuah modal, pikiran, dan tenaga untuk sebuah bisnis. Tapi lebih dari itu, sugesti terhadap diri adalah pondasi yang kita bangun secara berulang-ulang untuk sebuah pencapaian.

Sugesti diri mampu menjaga perjalanan pencapaian kita. Ia mampu membuat kita tetap berada di dalam "track'' yang benar untuk pencapaian keinginanan.

Godaan terbesar bagi sebuah pencapaian adalah ketidak-fokus-an dan ketidak-konsisten-an. Ada banyak pilihan lain yang seolah menjanjikan dan menawarkan sesuatu hal yang lebih menggoda. Namun terkadang melupakan tujuan awal dan ketetapan hati kita akan sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya paling kita inginkan.

Manusia seolah mampu melakukan segala hal, ingin mencapai semuanya, meraup sebanyak banyaknya. Ingin mengerjakan ini itu, meraih ini itu, ibarat sebuah perangkat teknologi dengan spesifikasi tinggi yang mampu melakukan "multitasking" tanpa kendala.

"Multitasking" berarti bisa mengerjakan banyak hal dalam tempo yang relatif sama. Tapi untuk masalah hasilnya seperti apa, sangat tergantung performa kita. Mengerjakan banyak hal dalam waktu yang relatif sama tentunya akan lebih sulit dan ribet. Dan untuk hasilnya tak akan bisa lebih bagus dari pada kita saat berfokus mengerjakan atau mencapai satu hal saja.

Sedangkan "Fokus" pada satu hal saja dalam pencapaian sesuatu, tentunya akan lebih mudah, lebih detail, lebih hemat, lebih cepat, dan lebih bisa maksimal hasilnya.

Tapi sehebat apapun produk teknologi yang paling canggih pun pasti ada  batasnya. Begitu juga manusia.., manusia juga terbatas. Kita akan dihadapkan pada kekuatan Tuhan. Dengan segala kuasa_Nya.. Dialah yang paling mampu dan berhak untuk membatasi kita.

Sugesti dan kemauan yang kuat yang kita tanamkan pada diri, akan menghasilkan curahan pikiran, tenaga, dan usaha yang kuat pula. Tapi sekuat dan sehebat apapun itu... Tetaplah harus berpasrah pada Tuhan pemilik kehidupan. Biar Dia yang mengizinkan atau tidak, mengabulkan atau tidak. Biar Dia yang membimbing, mengarahkan dan memberi tahu apa yang pantas untuk kita miliki dan tidak pantas untuk kita miliki.

--- Ayuth Badala --- 6 Maret 2016 ---