Kamis, 27 Agustus 2015

Peran, Kedudukan dan Emansipasi Perempuan dalam Kebudayaan Jawa

Oleh : Wahyu Sapto Prasojo
Perempuan dalam Pandangan Masyarakat Jawa
           Masyarakat jawa di berbagai tempat memiliki pandangan yang berbeda mengenai peran dan kedudukan perempuan, sehingga muncul konstruksi yang berbeda-beda mengenai perempuan. Pandangan tersebut dipengaruhi oleh stereotipe yang dikaitkan dengan sifat ataupun fisik laki-laki dan perempuan. Biasanya kaum lelaki dikonsepsikan sebagai makhluk yang lebih kuat jika di bandingkan perempuan. Gambaran kondisi fisik itulah yang pada akhirnya mempengaruhi konsep pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dikonsepsikan bekerja di wilayah publik (bekerja di luar rumah) yang dianggap tantangannya lebih besar, sedangkan perempuan bekerja di sekitar wilayah domestik (sekitar urusan rumah tangga), yang dianggap tantangannya lebih kecil. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin itu tidak hanya terdapat dalam masayarakat primitif, tetapi juga dalam masyarakat yang sudah maju. Di dalam berbagai lapisan masyarakat, kedudukan perempuan kebanyakan masih berada di dalam sektor domestik yang menyangkut tugas kerumahtanggaan. Pekerjaan di wilayah domestik dipandang lebih rendah daripada pekerjaan di wilayah publik, karena tidak menghasilkan keuntungan materi. Hal inilah yang menyebabkan kedudukan perempuan yang bekerja di sektor domestik dipandang lebih rendah daripada kedudukan laki-laki yang bekerja di sektor publik.
         Dalam budaya masyarakat Jawa dikenal istilah Kanca Wingking (Teman belakang) untuk menyebut istri. Hal itu menunjukkan perempuan tempatnya bukan di depan sejajar dengan laki-laki, melainkan di belakang. Dalam konsep budaya Jawa wilayah kegiatan istri adalah seputar masalah dapur (memasak), sumur (mencuci), dan kasur (melayani kebutuhan biologis suami). Pemetaan wilayah kerja bagi wanita tersebut kemudian dirangkaikan dengan tugas wanita, yaitu macak (berhias diri untuk menyenangkan suami)manak (melahirkan), dan masak (menyiapkan makanan bagi keluarga). Konsepsi itulah yang menyebabkan ruang gerak dan pemikiran perempuan menjadi sempit, karena perempuan menjadi kurang memiliki pengetahuan di luar tugas-tugas domestik (Sofwan, Suhandjanti 2001 : 7)
Menilik Historisitas Perempuan dalam Kebudayaan Jawa
          Sejarah perkembangan perempuan dalam budaya jawa dapat diamati dan dipelajari melalui berbagai sumber. Baik dari cerita (lisan ), ataupun dari sumber-sumber tertulis. Pengamatan melalui cerita lisan dapat diketahui dari cerita yang turun-temurun sejak dari zaman terdahulu sampai masa sekarang. Sedangkan sumber-sumber tertulis banyak terdapat dalam serat-serat atau karya sastra Jawa yang membahas tentang kedudukan perempuan. Surat Centini misalnya, meskipun terdapat juga serat-serat yang lain seperti serat Wulangreh karya Pakubuwana IV dan serat Candrarini karya Ronggowarsito  Selain itu juga banyak cerita, dongeng, babad yang juga bisa untuk dipelajari.
        Kebudayaan Jawa cukup kaya dengan karya sastra yang biasanya ditulis oleh para empu, Raja, atau pujangga pada zaman dahulu. Yang dimaksud dengan sastra Jawa adalah semua hasil karya yang ditulis oleh orang Jawa, yang berisi tentang kehidupan masyarakat Jawa dan didedikasikan bagi masyarakat Jawa. Pada perkembangannya sekarang banyak juga tulisan mengenai kebudayaan Jawa, yang dilakukan oleh penulis atau penulis yang berminat terhadap kebudayaan Jawa. Karya sastra, serat-serat, ataupun tulisan itu ternyata memberikan pengaruh yang cukup besar dan kuat terhadap masyarakat Jawa. Sejak pada zaman dahulu, masyarakat Jawa juga dikenal sebagai masyarakat yang patuh pada pemimpinnya, para petingginya yaitu raja beserta para punggawanya (para pembantu raja), karena pada kenyataannya karya sastra Jawa banyak ditulis pujangga keraton atau Raja sendiri yang kemudian harus dipatuhi pula oleh rakyat yang dipimpinnya. Menurut Umar Kayam, bahwa sastra Jawa memiliki nilai pengabdian yang tinggi dibanding unsur komersil yang terkandung di dalamnya.
         Karya sastra jawa mengalami perkembangan pada abad XVIII dan XIX. Penulsan karya satra Jawa itu memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Sebagai contoh, ketika kerajaan-kerajaan di Jawa mengalami kemunduran politik, namun di sisi lain justru terjadi perkembangan di bidang sastra. Jadi sebenarnya penulisan sastra Jawa bertujuan untuk maksud politik tertentu. Seringkali raja juga turut serta berperan dalam perkembangan sastra Jawa. Dan kedudukan raja sebagai tokoh sentral memiliki pengaruh yang kuat bagi masyarakat yang dipimpinnya, sehingga raja sangat dipatuhi begitu juga karya sastra yang yang dibuat olehnya. Gambaran tentang perempuan ideal diungkapkan dalam berbagai karya sastra Jawa. Salah satunya adalah Serat Wicara Keras karya Raden Ngabehi Yasadipura II diungkapakan bahwa perempuan berperilaku sebagai suami. Perilaku tersebut pada prinsipnya masih dalam lingkup pelaksanaan kewajiban perempuan dalam mewujudkan kesejahteraan rumah tangga. Perilaku perempuan terhadap suaminya harus dilandasi kelhuran dan keutamaan. Perbuatan yang harus dilakukan oleh perempuan sebagi istri adalh takut dan berbakti kepada suami (Wedi lan Bekti ing Laki).
         Dalm Serat Centhini pupuh 360 Dhandhanggula bait 30-34, ada sebuah nasihat yang menggambarkan sikap perempuan terhadap suami dikemukakan oleh Syeh Amongraga terhadap Niken Tambangraras, istrinya. Disebutkan bahwa terdapat dua hal yang perlu dingat oleh seorang istri, yaitu takut kepada Allah dan takut kepada suami, sehingga akan mendapat pahala di dunia dan di akhirat. Kekotoran dan kekusutan lahir batin akan sangat tergantung pada ada atau tidaknya rahmat didunia dan akhirat. Gambaran tentang wanita ideal juga dikemukakan juga dalam Serat Wulangreh Putri. Karya ini lebih menekankan pada tugas-tugas wanita selaku istri yang berkewajiban mengabdi sepenuh hati kepada suami.
          Pada dasarnya apa yang tertulis dalam karya sastra Jawa yang membahas tentang perempuan, menempatkan perempuan pada posisi yang tersubordinasi tidak bisa dilepaskan dari cara pandang serta budaya yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosial saat itu. Pandangn-pandangn yang dibentuk oleh budaya Jawa sebagaimana tercermindalam karya sastra Jawa tersebut bertitik tolak dari semacam anggapan ataupun keyakinan stereotipe perempuan. Gambaran perempuan Jawa menurut cara pandang budaya Jawa adalah sebagai berikut.
         Pertama, secara kodrati perempuan adalah makhluk lemah jika dibandingkan dengan dengan laki-laki sehingga perlu perlindungan dari laki-laki. Kedua, karena perempuan dipandang sebagai makhluk yang lemah sehingga perlu perlindungan dari laki-laki, nasib perempuan sebagai istri tergantung pula pada suami. Ketiga, perempuan diciptakan dari bagian tubuh laki-laki. Keempat, perempuan diciptakan untuk berbakti kepada laki-laki (suami).Kelima, kedudukan perempuan semata-mata masih dipandang sebagai alat reproduksi. Keenam, perempuan hanya mengurusi soal-soal domestik, urusan kerumahtanggaan, atau urusan dapur. 

Emansipasi Perempuan dalam Kebudayaan Jawa
         Emansipasi perempuan jawa sangat menarik untuk dipelajari, karena melihat peran dan kedudukan perempuan yang dianggap sebagai Kanca Wingking (teman belakang) dalam pandangan masyarakat jawa telah berakar lama. Disaat perempuan menginginkan sebuah usaha dan cita-cita yang tidak mau kalah dengan laki-laki, tetapi perempuan jawa juga akan bergesekan, berbenturan terhadap budayanya sendiri yaitu pandangan yang sedikit banyak telah menempatkan perempuan pada tempat kedua (kanca wingking). Yaitu tempat kedua setelah laki-laki yang mendapatkan tempat yang pertama. Sehingga permasalahan ini sangat menarik untuk dikaji, agar bisa memberikan manfaat bagi perkembangan masyarakat jawa, khususnya bagi kaum perempuan jawa itu sendiri.
         Budaya Jawa yang berkaitan dengan kedudkan dan peran perempuan itu telah belangsung lama, secara turun temurun. Perubahan pandangan terhadap perempuan secara berangsur mulai berubah sejak R.A. Kartini memperjuangkan hak memeperoleh pendidikan bagi perempuan. Sedikit demi sedikit para perempuan mengetahui hak-haknya, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.
        Selama perempuan Jawa belum bisa keluar dari konsep perempuan yang ditempatkan pada posisi kedua, perempuan harus terus berjuang dengan semangat emansipasinya agar benar-benar mendapatkan cita-citanya yaitu mampu bersaing dengan laki-laki. Perempuan harus benar-benar mampu menunjukkanya melalui usaha yang keras dalam bidang apapun atau sampai pada prestasi yang bisa ditunjukkan. Dan pada kenyataannya sekarang banyak dari kaum perempuan yang mampu menunjukkan kemampuannya, dan itu bisa menjadi alasan bahwa perempuan memang pantas untuk bersaing secara sehat dengan laki-laki.
         Konsep Budaya Jawa mengenai perempuan sewaktu-waktu bisa berubah menurut perkembangan zaman. Dan kaum perempuan Jawa sendirilah yang mampu merubahnya. Apakah ingin tetap memegang konsep budaya jawa yang menempatkan perempuan pada posisi kedua atau mulai beranjak untuk tidak terlalu terpaku pada konsep budaya itu dengan cara menunjukkan secara nyata apa yang bisa dilakukan oleh perempuan sebagai sesama makhluk Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Perjuangan harus terus dilakukan disaat kaum perempuan benar-benar mengidam-idamkan cita-cita emansipasi yang dilihami dari tokoh Pahlawan perempuan Indonesia yaitu R.A. Kartini. Meskipun sulit mewujudkan cita-cita itu, tetapi usaha dan perjuangan masih bisa untuk terus dilakukan, karena mengingat seringkali usaha itu terbentur dengan budaya patriarki yang masih kuat di Jawa bahkan diseluruh bagian lain di  Indonesia. Sehingga kaum perempuan harus benar-benar bekerja keras  mewujudkan cita-cita emansipasi itu.



Daftar Pustaka :
Lombard, Denys, 1996, Nusa Jawa : Silang Budaya (Warisan Kerajaan-kerajaan   Konsentris), Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Soekmono, R, 1973, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Kanisius, Yogyakarta.
Sukri, Sri Suhandjati, Ridin Sofwan, 2001, Perempuan dan Seksualitas dalam tradisi    Jawa,  Gama Media, Yogyakarta.

Internet :
'apakabar@clark.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar