Kamis, 27 Agustus 2015

Belajar Bersyukur dari Anak-anak

Menjalani hari ini bersama anak-anak sungguh indah adanya. Bersama mereka begitu terasa kebahagiaan dan kedamaian yang jujur. Kenapa kebahagiaan ini terasa jujur karena dulu pernah aku memaksakan diri untuk merasa bahagia meskipun akhirnya kebahagiaan itu memang terasa. Tapi kali ini aku bersyukur karena kebahagiaan itu hadir begitu saja, tanpa aku buat-buat, tanpa aku paksakan. Bersyukur..., karena hari ini aku masih diberikan kesempatan oleh_Nya untuk bisa tersenyum bersama anak-anak. Anak-anak yang lucu, polos, lugu, menghibur dan penuh gairah. Bahkan samapi-sampai aku sering mengatakan bahwa anak-anak adalah contoh nyata simbol dan Icon "kedamaian" dalam hidup ini. Yang membuatku mendasari untuk mengatakan ini bukan tanpa alasan, tetapi sejujurnya alasanku hanya satu..yaitu tentang "perasaan hati " ini. Hati ini selalu merasa damai ketika melihatnya. Anak yang pendiam, anak yang lucu, anak yang cerdas, anak yang polos, anak yang lugu, anak yang nakal sekalipun, masih saja dari sosoknya bisa kutangkap sebuah kedamaian. Dan masih tentang bersyukur.., aku pun juga bersyukur karena hari demi hari kini "kebahagiaan" itu semakin rajin menghiasi waktu-waktu di hidupku.
Aku jadi ingat tentang sesuatu..sekitar satu bulan yang lalu. Ada pelajaran besar yang kudapat dari sebuah obrolan sepele bersama anak-anak yang hebat. Singkat cerita dari berbagai macam obrolan dan tetek bengek cerita, tiba-tiba si anak berkata seperti ini,"meski sedikit tetaplah disyukuri.." pak. Entah kenapa kemudian kata-kata itu benar-benar terngiang dipikiranku, bahkan kata-kata seperti itu sering kudengar dari berbagai macam ustad, motivator, mentor, senior, sesepuh dll. Tapi jusru dari mulut anak-anak hebat itu kata-kata itu menjadi lebih sering kuingat dari sebelum-sebelumnya, hingga membuatku ingin belajar caranya mensyukuri. Tapi Iya...aku sadar..semua memang masih dalam tahap belajar, karena aku merasa..aku belum menjadi golongan orang yang pandai bersyukur, tapi pesan positifnya setidaknya "dengan mau belajar aku telah mencoba, dengan mau mencoba aku telah belajar". Itu akan lebih baik daripada "tidak mencobanya sama sekali, tidak belajar sama sekali". Mudah-mudahan ini bisa berarti menjadi sebuah proses perjalananku untuk menuju "mensyukuri yang sedikit agar diberikan yang lebih banyak"oleh_Nya. Agar membuatku semakin yakin bahwa itulah cara-cara untuk membuka"pintu pertama" menuju kebahagiaan-kebahagiaan selanjutnya.
Anak-anak telah mengajariku dengan kepolosannya menasehatiku, anak-anak mampu memberi cermin sakti bagi jiwa yang mulai buram dan abu-abu. Kenapa mereka bisa melakukannya dan mengapa dari merekalah bisa membuatku menjadi ingat dan kembali bercermin???. Pikirku cuma sederhana, karena anak-anak adalah kepanjangan tangan Tuhan yang kadangkala justru bisa berpikir lebih jernih dari seorang dewasa yang telah dipenuhi pikiran dan beban kehidupan. Anak-anak bisa lebih jernih berpikir dan menggunakan hatinya dibandingkan orang-orang dewasa yang telah cukup banyak terkontaminasi racun-racun dunia. Hingga Tuhan memberikan dan menitipkan pesan kebaikan pada seorang yang menurut_Nya layak untuk dititipi...yaitu anak-anak, agar pesan kebaikan itu disebarkan kepada orang dewasa yang seringkali lebih lalai dibandingkan anak-anak.
Ayuth Wahyu Sapto Prasojo (12-2-2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar